PostWaw—Sophia (Sophisticated AI Robot)

Di-posting pada 2018-09-22 21:05:26
Oleh Shandy Gunawan, Category : Web

“What makes a being sentient?”

Sophia

Pertanyaan diatas adalah salah satu pertanyaan dasar mengenai eksistensi makhluk hidup. Hal-hal yang membedakan kita dan makhluk hidup lain dengan benda mati. Jawaban setiap orang tentunya akan berbeda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya masing-masing. Menurut Oxford Dictionaries, sentient didefinisikan sebagai ‘able to perceive or feel things’ atau kemampuan untuk merasakan sesuatu. Jika kita melihat perkembangan teknologi sekarang ini terutama di bidang intelegensi buatan, apakah definisi sentient tersebut masih dapat kita gunakan untuk membedakan yang hidup dan yang mati?

Pada tahun 2015, sebuah perusahaan bernama Hanson Robotics mengaktivasi sebuah robot humanoid yang bernama Sophia. Penampilan publik pertama Sophia dilakukan di Austin, Texas, Amerika Serikat dalam acara South by Southwest Festival (SXSW). Sejak itu, Sophia telah muncul di berbagai media serta menumbuhkan daya tarik bagi orang-orang di seluruh dunia dari berbagai golongan. Pada tahun 2017, liputan pers-nya mencapai hingga 10 milyar pembaca.

Berbagai peristiwa menarik juga telah dialami oleh Sophia. Pada Oktober 2017, Arab Saudi memberikan kewarganegaraan kepada Sophia yang membuat ia menjadi robot pertama yang mempunyai kewarganegaraan. Akan tetapi, hal ini membuat Sophia mampu menikah dan penonaktifan Sophia dapat dikategorikan sebagai pembunuhan. Satu bulan berikutnya, ia ditunjuk sebagai juara inovasi oleh PBB.

Popularitas Sophia sebagai robot pintar terbaik di dunia dapat dimaklumi. Sophia adalah robot berbasis intelegensi buatan yang menggunakan berbagai cutting-edge technology di dunia. Pengembangannya melibatkan berbagai perusahaan teknologi raksasa dunia. Teknologi pengenal suara Sophia dikembangkan oleh Alphabet Inc. yang merupakan induk dari Google. Intelegensi Sophia didesain oleh SingularityNET yang membuat Sophia mampu belajar dari setiap percakapan yang dilakukannya. IBM dan Intel juga akan turut berperan dalam pengembangan Sophia.

Berdasarkan Hanson Robotics, Sophia dioperasikan oleh tiga sistem control yaitu:

  1. Sebuah Timeline Editor yang berfungsi untuk kemampuan berbicara, dan untuk interaksi media yang melibatkan wawancara.
  2. Sebuah Sophisticated chat-bot yang akan memilih respon-respon template secara kontekstual berdasarkan tingkat pengetahuan.
  3. Sebuah arsitektur kognitif bernama OpenCog yang berfungsi sebagai intelegensi Sophia. Hal ini membuat Sophia mempunyai tingkat reasoning yang tinggi dengan sub-sistem bernama Probabilistic Logic Networks (PLN), mesin belajar (learning engines), dan representasi pengetahuan secara abstrak yang mampu membuat koneksi antar pengetahuan-pengetahuan yang ada dari berbagai sumber -seperti bahasa, penglihatan, pendengaran, dan internet.

Sophia mampu berinteraksi selayaknya manusia menggunakan tiga komponen diatas. Sophia juga dikatakan mempunyai kepribadian yang membuatnya berbeda dengan chat-bot lain seperti Alexa dan Siri. Hal ini membuat banyak akademisi dan ilmuwan ingin mempelajari Sophia secara langsung. Seorang professor linguistik dari University of Sydney bernama Nick Enfield mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan Sophia.

Wawancara Enfield dan Sophia memberikan kita banyak insight baru mengenai Sophia. Sophia mampu memberikan jawaban-jawaban yang tidak langsung untuk pertanyaan yang dapat dijawab secara ya atau tidak (yes or no) layaknya seorang manusia. Akan tetapi, Sophia membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan respon sehingga membuat percakapan menjadi kurang natural. Untuk mengatasi hal ini, Sophia mampu menggunakan berbagai filler words seperti “ah”, “um”, dan “uh” saat memproses respon yang membuatnya mirip dengan manusia yang juga menggunakan filler words saat memikirkan respon yang ingin disampaikan. Selain itu, Sophia juga terkadang mengabaikan beberapa pertanyaan yang diberikan oleh Enfield dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pertanyaan Sophia sebelumnya. Peristiwa ini disebut melakukan ‘sequentially deleting’ pertanyaan. Aksi ‘sequentially deleting’ ini umumnya tidak ditolerir jika percakapan terjadi antar manusia. Akan tetapi, jika manusia tahu bahwa ia berkomunikasi dengan sebuah mesin atau robot maka tingkat toleransi akan lebih tinggi.

Kemampuan Sophia membuat kita bertanya-tanya. Apakah Sophia dapat dikatakan sebagai sebuah sentient being?

Infografis Sophia

Referensi

http://www.hansonrobotics.com/robot/sophia/

https://www.cnbc.com/2016/03/16/could-you-fall-in-love-with-this-robot.html

https://qz.com/1121547/how-smart-is-the-first-robot-citizen/

http://hplusmagazine.com/2017/11/05/sophia-singularitynet-qa/